Kamis, 04 Februari 2010

Penyebab Kepunahan

Jika komunitas dan spesies telah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, mengapa mereka terancam punah ? Tidakkah komunitas dan spesies cenderung untuk bertahan di wilayah yang sama untuk beberapa waktu lamanya ?, maka jawabannya sangat jelas: manusia telah menyebabkan kerusakan yang besar pada lingkungan yang membawa spesies dan komunitas pada kepunahan. Ancaman utama pada keanekaragaman hayati yang disebabkan oleh kegiatan manusia adalah perusakan habitat, fragmentasi habitat, gangguan pada habitat (termasuk polusi), penggunaan spesies yang berlebihan untuk kepentingan manusia, introduksi spesies-spesies eksotik dan penyebaran penyakit. Kabanyakan spesies yang terancam kepunahan menghadapai dua atau lebih masalah ini yang mempercepat kepunahannya dan mempersulit pelestariannya (Groombridge, 1992).

Keenam ancaman terhadap keanekaragaman hayati diatas disebabkan oleh penggunaan kekayaan alam uang semakin meningkar dengan semakin bertambahnya populasi manusia di muka bumi. Sampai dengan beberapa ratus tahun lalu, kenaikan jumlah penduduk dunia cukup lambat yaitu dengan kecepatan kelahiran yang hanya sedikit lebih besar daripada kecepatan kematian. Kerusakan terbesar terhadap keanekaragaman hayati terjadi pada waktu 150 tahun terakhir. Pada kurun waktu tersebut jumlah penduduk bertambah dari 1 milyar pada tahu 1850, 2 milyar pada tahun 1930, sampai 5 milyar pada tahun 1995 dan mencapai 6,5 milyar pada tahun 2000. Jumlah manusia akan terus bertambah karena tingkat kelahiran telah tinggi sedangkan tingkaat kematian telah menurun karena kemajuan dalam ilmu kedokteran modern serta pasokan bahan makanan yang dapat diandalkan (Keyfitz, 1989).

Manusia menggunakan kekayaan alam seperti kayu bakar, daging dari hewan liar, serta tumbuhan liar, dan manusia mengubah habitat alami menjadi lahan pertanian atau tempat tinggal, sehingga dengan demikian pertambahan penduduk bumi saja sudah memberikan andil yang besar bagi kepunahan keanekaragaman hayati di muka bumi. Beberapa ahli percaya bahwa pembatasan populasi manusia adalah kunci untuk pelestarian keanekaragaman hayati (Hardin, 1993). Namun, pertumbuhan populasi manusia bukan satu-satunya penyebab kepunahan spesies dan kerusakan habitat. Jika kita mengamati keadaan di seluruh dunia, baik di negara maju maupun negara yang sedang berkembang, jelaslah terlihat bahwa kepunahan spesies dan kerusakan ekosistem tidak selalu disebabkan oleh individu manusia yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Berkembangnya industry kapitalisme dan masyarakat modern yang materialistik juga menyebabkan kenaikan permintaan akan kenaikan kekayaan alam yang luar biasa, terutama di negara-negara yang sudah maju. Pemakaian yang tidak efisien serta penggunaan kekayaan alam yang tidak seimbang juga merupakan penyebab utama menurunnya keanekaragaman hayati.

Pada banyak keadaan, penyebab kerusakan habitat adalah industri berskala besar dan kegiatan komersial yang berhubungan dengan ekonomi global, seperti pertambangan, peternakan sapi, perikanan komersial, pengusahaan hutan, perkebunan industri dan pembangunan dam yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan yang besar (Meyer, 1994).

Pemakaian sumber daya alam yang tidak seimbang di dunia juga merupakan penyebab kerusakan keanekaragaman hayati di daerah tropik. Di negara-negara maju, manusia mengkonsumsi sumber daya alam secara berlebihan (Parikh, 1991). Untuk setiap tahunnya rata-rata penduduk Amerika Serikat menggunakan 43 kali lebih banya minyak bumi, 34 kali lebih banyak aluminium, dan 58 kali lebih banyak pupuk fosfat dari rata-rata penduduk India (WRI/UNEP/UNDP 1994). Penggunaan sumber daya alam yang berlebihan ini bersigfat tidak berkelanjutan, dan pola ini bila terus dilaksanakan orang-orang dari kelas menengah yang terus bertambah di negara maju, akan menyebabkan kerusakan lingkungan yang besar sekali. Orang-orang kaya di negara maju harus sadar akan hal ini dan mengevaluasi kembali cara hidup mereka sebelum mereka mempermasalahkan pertambahan penduduk atau pelestarian keanekaragaman hayati di negara yang sedang berkembang.

Ada Berapa Spesies MHD Di Dunia

Strategi melestarikan keanekaragaman hayati membutuhkan perkiraan berapa banyak spesies yang ada dan bagaimana distribusinya. Saat ini sudah 1,4 juta spesies yang sudah diteliti. Paling tidak dua kali jumlah ini belum diteliti, terutama serangga dan artropoda di daerah tropik. Pengetahuan tentang jumlah spesies tidak akurat karena masih banyak spesies yang secara taksonomi belum diidentifikasi. Contohnya rayap, nematoda, dan jamur yang hidup ditanah dan serangga yang hidup di kanopi hutan karena berukuran kecil dan sulit untuk dipelajari. Kelompok yang belum diketahui dengan baik ini bisa berjumlah ratusan ribu ataupun jutaan spesies. Bakteri juga belum banyak dipelajari (Hawksworth 1992). Hanya sekitar 4000 spesies bakteri yang dikenali oleh ahli mikrobiologi karena sulitnya memelihara dan mengamati spesimen. Tetapi hasil penelitian di Norwegia yang menganalisis DNA bakteri yang menunjukkan mungkin ada lebih dari 400 bakteri yang berada dalam satu gram tanah, dan jumlah yang sama dalam sedimen laut (Giovani 1990). Jarangnya koleksi spesies kelautan menghambat pengetahuan kita tentang jumlah yang ada. Lingkungan kelautan merupakan wawasan baru di dunia keanekaragaman hayati. Filum yang sama sekali baru, Loricifera, pertama kali ditemukan tahun 1983 didasarka pada spesimen di dasar lautan (Kristensen 1983). Dan tak diragukan lagi, masih banyak spesies baru yang dapat ditemukan.

SEJARAH ILMU MANAJEMEN

Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Karenanya, manajemen dapat diartikan sebagai ilmu dan seni tentang upaya untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

A. Manajemen sebagai ilmu, seni, dan profesi
Ilmu manajemen merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang disistemisasi, dikumpulkan dan diterima kebenarannya. Hal ini dibuktikan dengan adanya metode ilmiah yang dapat digunakan dalam setiap penyelesaian masalah dalam manajemen. Metode ilmiah pada hakikatnya meliputi urutan kegiatan sebagai berikut :
1. Mengetahui adanya persoalan
2. Mendefinisikan Persoalan
3. Mengetahui adanya persoalan
4. Mendefinisikan persoalan
5. Mengumpulkan data, fakta, dan informasi
6. Menyusun alternatif penyelesaian
7. Mengambil keputusan
8. Melaksanakan keputusan
Selain manajemen sebagai ilmu, manajemen juga dianggap sebagai seni. Hal ini disebabkan oleh kepemiminan memerlukan kharisma, stabilitas emosi, kewibawaan, kejujuran, kemampuan menjalin hubungan antaramanusia yang semuanya itu banyak ditentukan oleh bakat seseorang dan tidak dapat dipelajari.

B. Sejarah Manajemen
Banyak kesulitan yang terjadi dalam melacak sejarah manajemen. Beberapa orang melihatnya sebagai konseptualisasi modern yang terlambat. Dalam istilah tersebut manajemen tidak memiliki sejarah pra-modern, hanya merupakan pertanda. Beberapa orang lainnya, mendeteksi aktivitas mirip manajemen di masa pra-modern akhir. beberapa penulis melacak perkembangan pemikiran manajemen pada pedagang-pedangan Sumeria dan pembangun piramid Mesir. Para pemilik budak selama berabad-abad menghadapi permasalahan eksploitasi/memotivasi budak yang bergantung namun terkadang suka melawan (memaksa otoritas), namun banyak perusahaan pra-industri, dengan skala mereka yang kecil, tidak merasa terdorong ungtuk menghadapi permasalahan manajemen secara sistematis. namun, inovasi seperti penyebaran sistem angka Hindu-Arab (abad ke-5 hingga ke15) dan kodifikasi kesekretariatan entri-ganda (1494) menyediakan perangkat untuk penilaian, perencanaan dan kendali manajemen.
1. Abad 19
Bidang pelajaran manajemen berkembang dari ekonomi dalam abad 19. Pelaku Ekonomi klasik Adam Smith dan John Stuart Mill memberikan teori-teori pengaturan sumber daya, produksi dan penetapan harga. Pada saat yang hampir bersamaan, penemu seperti Eli Whitney, James Watt, dan Matthew Boulton mengembangkan teknik produksi seperti Penetapan standar, prosedur kontrol kualitas, akuntansi biaya, penukaran bahan, dan perencanaan kerja.
Pada pertengahan abad 19, Robert Owen, Henry Poor, dan M. Laughlin dan lain-lain memperkenalkan elemen manusia dengan teori pelatihan, motivasi, struktur organisasi dan kontrol pengembangan pekerja.
Pada akhir abad 19, pelaku ekonomi marginal Alfred Marshall dan Leon Walras memperkenalkan lapisan baru yang kompleks ke teori manajemen. Pada 1900an manajer mencoba mengganti teori mereka secara keseleruhan berdasarkan sains.
2. Abad 20
Teori pertama tentang manajemen yang lengkap muncul sekitar tahun 1920. Orang seperti Henry Fayol dan Alexander Church menjelaskan beberapa cabang dalam manajemen dan hubungan satu sama lain.
Peter Drucker menulis salah satu buku paling awal tentang manajemen terapan: “Konsep Korporasi” (Concept of the Corporation), diterbitkan tahun 1946. Buku ini muncul atas ide Alfred Sloan chairman dari General Motors yang menugaskan penelitian tentang organisasi.
H. Dodge, Ronald Fisher, dan Thorton C Fry memperkenalkan teknik statistika ke dalam manajemen. Pada tahun 1940-an, Patrick Blackett mengkombinasikan teori statistika dengan teori mikroekonomi dan lahirlah ilmu riset operasi. Riset operasi, sering dikenal dengan “Sains Manajemen”, mencoba pendekatan sains untuk menyelesaikan masalah dalam manajemen, khususnya di bidang logistik dan operasi.
Mendekati akhir abad 20, manajemen terdiri dari beberapa bidang terpisah, termasuk :
1. Manajemen sumber daya manusia
2. Manajemen operasi atau produksi
3. Manajemen strategi
4. Manajemen keuangan
5. Manajemen informasi teknologi

C. Pengertian Manajer
Manajer adalah seorang yang karena pengalaman, pengetahuan, dan keterampilannya diakui oleh organisasi untuk memimpin, mengatur, mengelola, mengendalikan dan mengembangkan kegiatan organisasi dalam rangka mencapai tujuan. Tugas-tugas seorang manajer adalah :
• Memimpin organisasi
• Mengatur organisasi
• Mengendalikan organisasi
• Mengembangkan organisasi
• Mengatasi berbagai masalah yang terjadi di dalam organisasi
• Menciptakan kerja sama di dalam organisasi.
• Menjalin kerja sama dengan pihak-pihak di luar organisasi
• Meningkatkan rasa tanggung jawab
• Mengawasi/mengendalikan kegiatan organisasi
• Melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang telah dilakukan
• Menggali dan mengembangkan potensi sumber daya

Tingkat dan keterampilan manajer
1. Top management atau manajemen tingkat atas yang sering disebut dengan executive officer atau top manager.
2. Middle management atau manajemen tingkat mengenah sering disebut kepala bagian.
3. Lower management atau manejemen tingkat bawah yang dikenal pula dengan istilah manajemen opeerasional (supervisor, kepala seksi, dan mandor).
Masing-masing tingkat manajemen memiliki keterampilan yang berbeda-beda. Menurut Indriyo Gitosudarmo dan Agus Mulyono, manajer harus memiliki tiga macam keterampilan, yaitu keterampilan konsepsional, keterampilan kemanusiaan, dan keterampilan teknis.
Keterampilan konseptual
Manajer tingkat atas (top manager) harus memiliki keterampilan untuk membuat konsep, ide, dan gagasan demi kemajuan organisasi. Keterampilan ini sering disebut sebagai keterampilan kosepsional (conceptional skill). Gagasan atau ide serta konsep tersebut kemudian haruslah dijabarkan menjadi suatu rencana kegiatan untuk menciptakan gagasan atau konsepnya itu. Proses penjabaran ide menjadi suatu rencana kerja yang kongkret itu biasanya disebut sebagai proses perencanaan. Oleh karena itu, keterampilan konsepsional juga meruipakan keterampilan untuk membuat rencana kerja.
Keterampilan komunikasi atau kemanusiaan
Selain kemampuan konsepsional, manajer juga perlu dilengkapi dengan keterampilan berkomunikasi atau keterampilan berhubungan dengan orang lain yang disebut juga keterampilan kemanusiaan (human skill).
Komunikasi yang persuasif harus selalu diciptakan oleh manajer terhadap bawahan yang dipimpinnya. Dengan komunikasi yang persuasif, bersahabat, dan kebapakan akan membuat karyawan merasa dihargai dan kemudian mereka akan bersikap terbuka kepada atasan. Keterampilan berkomunikasi diperlukan, baik pada tingkatan manajemen atas, menengah maupun bawah.
Keterampilan teknis
Keterampilan terakhir yang merupakan bekal bagi seorang manajer adalah keterampilan teknis (technical skill). Keterampilan ini pada umumnya merupakan bekal bagi manajer pada tingkat yang lebih rendah. Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk menjalankan suatu pekerjaan tertentu, misalnya memperbaiki mesin, membuat kursi, merangkai bunga dan keterampilan teknis yang lain.



D. Prinsip dan Fungsi Manajemen
1. Prinsip manajemen
Prinsip dapat didefinisikan sebagai suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum yang merupakan sebuah pedoman untuk berpikir atau bertindak. Prinsip merupakan dasar, namun tidak bersifat mutlak karena prinsip bukanlah umum. Dalam hubungannya dengan manajemen, prinsip-prinsip bersifat fleksibel dalam arti bahwa perlu di pertimbangkan sesuai dengan kondisi-kondisi khusus dan situasi-sitauasi yang berubah. Prinsip-prinsip umum manajemen (general principle of management) teridiri dari:
o Pembagian kerja (Division work)
o Wewenang dan tanggung jawab (Authority and Responsibility)
o Disiplin
o Kesatuan perintah (Unity of direction)
o Pemusatan (Centralitation)
o Hirarki (tingkatan)
o Keadilan dan kejujuran
o Prakarsa (inisiative)

2. Fungsi manajemen
Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.
Manajer Mengelola fungsi-fungsi Tujuan


Perencanaan
Organisasi
Pelaksanaan
Pengawasan

Perencanaan (Planning)
Kegiatan seorang manajer adalah menyusun rencana. Menyusun rencana berarti memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Agar dapat membuat rencana secara teratur dan logis, sebelumnya harus ada keputusan terlebih dahulu sebagai petunjuk langkah-langkah selanjutnya.

Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian atau organizing berarti menciptakan suatu struktur dengan bagian-bagian yang terintegrasi sedemikian rupa sehingga hubungan antar bagian-bagian satu sama lain dipengaruhi oleh hubungan mereka dengan keseluruhan struktur tersebut.
Pengorganisasian bertujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Selain itu, mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut.
Menggerakkan (Actuating)
Menggerakkan atau actuating adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi. Jadi actuating artinya adalah menggerakkan orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau penuh kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan (leadership).
Pengawasan (Controling)
Pengawasan merupakan tindakan seorang manajer untuk menilai dan mengendalikan jalannya suatu kegiatan yang mengarah demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

E. Sarana Manajemen
Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan diperlukan alat-alat sarana (tools). Toolsmen, money, materials, machines, method, dan markets. Merupakan syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Sarana tersebut dikenal dengan 6M, yaitu :
1. Man (SDM)
Dalam manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, manajemen timbul karena adanya orang-orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan.


2. Money (uang)
Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi.
3. Materials (bahan)
Materi terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan manusia tidaki dapat dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.
4. Machine (mesin)
Dalam kegiatan perusahaan, mesin sangat diperlukan. Penggunaan mesin akan membawa kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta menciptakan efesiensi kerja.
5. Methods
Dalam pelaksanaan kerja diperlukan metode-metode kerja. Suatu tata cara kerja yang baik akan memperlancar jalannya pekerjaan. Sebuah metode dapat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan utama dalam manajemen tetap manusianya sendiri.
6. Market (pasar)
Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting sebab bila barang yang diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu, penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi merupakan faktor menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli konsumen.